Mengamankan Uang Agar Tidak Dimakan Inflasi
all, bisnis Saturday, July 09, 2011
Musuh terbesar uang adalah inflasi. Ketika inflasi rendah, harga uang menjadi naik. Ketika inflasi tinggi, harga uang menjadi turun. Contohnya, sewaktu terjadi krisis moneter 1998 di Indonesia. Harga uang – khususnya rupiah – melemah, karena inflasi saat itu memang tinggi.
Di samping, banyak beredar uang dolar ($). Itu salah satu kekurangan dari uang. Namun, hal itu bisa Anda akali. Bagaimana caranya? Dengan mengonversikan uang Anda ke emas. Lho kok bisa? Dan kenapa harus emas?
Emas adalah salah satu alat untuk menyimpan nilai, khususnya rupiah Anda yang sering kena gonjang-ganjing perubahan dunia. Emas pula, yang bisa dikonversi ke seluruh mata uang di seluruh dunia. Tak percaya? Coba saja. Harga emas dipatok oleh dolar ($) yang relatif lebih stabil.
Oke, kelamaan jika kita membicarakan soal emas dalam hal teori. Sebagai contoh, biar mudahnya, Lilih pernah beli emas perhiasan 4 gram beberapa bulan lalu. Harga saat itu masih 200 ribu per gramnya. Jadi, Lilih mengonversikan uang sebanyak 800 ribu rupiah.
Selang beberapa bulan, harga tersebut naik: pertama, jadi 215 ribu per gramnya. Kemudian, naik lagi jadi 220 ribu per gramnya. Lumayan. Coba uang itu Lilih simpan sendiri. Jelas akan menurun kan? Misalnya, Lilih simpan di bank? Uang Lilih akan susut kena biaya administrasi dan ditambah masih terimbas inflasi.
Sebetulnya, harga emas juga dipengaruhi oleh inflasi. Namun, kebalikan dari uang. Jika kena inflasi harga uang melemah, maka emas jika kena inflasi akan harganya akan tinggi melambung. Asyik kan?
Salah satu contoh yang pernah Lilih terapkan dalam menyimpan emas adalah untuk pengumpulan modal. Yap, bisa modal usaha, modal untuk kawin, modal untuk macam-macamlah. Gimana tertarik?
Dari beberapa sumber yang Lilih peroleh, ada tiga cara untuk membeli emas:
(1) Belilah emas perhiasan,
(2) Belilah emas batangan (bukan yang keluaran Antam),
(3) Belilah emas batangan (keluaran Antam).
Ketiganya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, tinggal pilih sesuai selera. Tapi, Lilih tidak akan membahasnya sekarang. Lain kali disambung lagi.
Berbeda pendapat dengan artikel ini? Tuliskan di box komentar. [Lilih Prilian Ari Pranowo]
*Penulis adalah admin di Indonesia Revive! dan dapat dikunjungi di laman pribadinya disini.
Di samping, banyak beredar uang dolar ($). Itu salah satu kekurangan dari uang. Namun, hal itu bisa Anda akali. Bagaimana caranya? Dengan mengonversikan uang Anda ke emas. Lho kok bisa? Dan kenapa harus emas?
Emas adalah salah satu alat untuk menyimpan nilai, khususnya rupiah Anda yang sering kena gonjang-ganjing perubahan dunia. Emas pula, yang bisa dikonversi ke seluruh mata uang di seluruh dunia. Tak percaya? Coba saja. Harga emas dipatok oleh dolar ($) yang relatif lebih stabil.
Oke, kelamaan jika kita membicarakan soal emas dalam hal teori. Sebagai contoh, biar mudahnya, Lilih pernah beli emas perhiasan 4 gram beberapa bulan lalu. Harga saat itu masih 200 ribu per gramnya. Jadi, Lilih mengonversikan uang sebanyak 800 ribu rupiah.
Selang beberapa bulan, harga tersebut naik: pertama, jadi 215 ribu per gramnya. Kemudian, naik lagi jadi 220 ribu per gramnya. Lumayan. Coba uang itu Lilih simpan sendiri. Jelas akan menurun kan? Misalnya, Lilih simpan di bank? Uang Lilih akan susut kena biaya administrasi dan ditambah masih terimbas inflasi.
Sebetulnya, harga emas juga dipengaruhi oleh inflasi. Namun, kebalikan dari uang. Jika kena inflasi harga uang melemah, maka emas jika kena inflasi akan harganya akan tinggi melambung. Asyik kan?
Salah satu contoh yang pernah Lilih terapkan dalam menyimpan emas adalah untuk pengumpulan modal. Yap, bisa modal usaha, modal untuk kawin, modal untuk macam-macamlah. Gimana tertarik?
Dari beberapa sumber yang Lilih peroleh, ada tiga cara untuk membeli emas:
(1) Belilah emas perhiasan,
(2) Belilah emas batangan (bukan yang keluaran Antam),
(3) Belilah emas batangan (keluaran Antam).
Ketiganya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, tinggal pilih sesuai selera. Tapi, Lilih tidak akan membahasnya sekarang. Lain kali disambung lagi.
Berbeda pendapat dengan artikel ini? Tuliskan di box komentar. [Lilih Prilian Ari Pranowo]
*Penulis adalah admin di Indonesia Revive! dan dapat dikunjungi di laman pribadinya disini.














