...

Ketika ‘Disfungsi Erek-tweet’ Melanda


Seberapa ‘betah’ Anda bermain Twitter. 1 tahun, 2 tahun, 3 tahun, atau lebih? Umumnya, kegemaran dan kesukaan dalam beraktivitas di tool apapun di ranah maya memiliki umur. Entah itu di forum, komunitas, ataupun di social media. Seperti Twitter.

Pernahkah Anda melihat satu atau dua tweet yang beredar di timeline seperti laiknya orang yang ‘mengobrol’ sendiri? Tweet yang berisi kalimat tanpa mention dan sekadar ‘asbun’ atau asal bunyi. Jika Anda pernah mengalaminya, bisa dikatakan Anda telah terkena gejala ‘disfungsi erek-tweet’.

Secara sederhana ‘disfungsi erek-tweet’ bisa dikatakan sebagai keadaan dimana kita merasa kesepian di twitterland. Kesepian entah karena kekurangan teman atau tidak ada topik yang dapat  diperbincangkan di twitterland.

Laiknya DE atau disfungsi ereksi, disfungsi erektweet juga memiliki obat. Kesunyian kita di twitterland juga memiliki penangkal. Jalan keluar untuk keluar dari gejala difungsi erektweet juga sangat sederhana. Namun tidak banyak tweeps yang menerapkannya.

Pertama Anda dapat membuat list. List sangat dahsyat efeknya. Dengan list kita dapat menangkap semua tweets sesuai dengan filter yang kita terapkan. Dengan list yang dibuat, maka semua tweets yang kita kehendaki akan tertampung. Dan kita dapat berinteraksi─mention serta nge-retweet─di pelbagai tweets yang tertangkap di list.

Kedua, jargon Twitter adalah what’s happening atau apa yang terjadi. Mengapa Anda tidak menge-tweet apa yang terjadi di sekitar Anda? Apakah itu peristiwa, kejadian yang sedang terjadi, atau apapun itu. Twitter bisa dibilang sebagai media citizen juornalism. Anda dapat ‘bertingkah’ laiknya wartawan dengan menggunakan media social media─Twitter.

Ketiga, ikutlah berinteraksi dengan pelbagai aktivitas yang sekarang sangat trends di twitterland. Seperti poll, kuis, atau sekadar tweet yang menanyakan sesuatu. Misalkan dari pengguna @soalmention, @soalcinta, @cumannanya, @twitalkID, dan lain sebagainya. Tak jarang kita akan mendapatkan teman baru─follower─di pelbagai tweet  mereka yang kita balas atau retweet.

Keempat, ikutlah berinteraksi di pelbagai tweets yang menyematkan hastag (#). Atau jika Anda akan nge-tweet yang dirasa tweet tersebut penting, berguna, vital, sematkan hastag di dalamnya. Hastag memiliki fungsi menangkap pelbagai tweets yang memiliki hastag tertentu. Tweets dengan sebuah hastag, merkipun beredar berserakan serta tidak beraturan, namun sesungguhnya tersusun rapi jika kita mengekliknya.

Kelima, ingat, Anda tidak sendirian di twitterland. Di Twitter, Anda adalah seorang ‘Presiden’ yang memilki ‘rakyat’─follower. Jika Anda terlalu cerewet atau mem-publish tweets yang tidak bermutu dan cenderung ‘nyampah’, bisa-bisa rakyat Anda akan marah dan ujungnya akan meng-unfollow Anda. So, bersikaplah bijak dalam menge-tweet sesuatu. Jika tidak ada ‘syahwat’ untuk menge-tweet mending ditahan saja. Daripada nanti dituduh nyampah.

Jika kelima cara di atas tidak dapat mengurangi penyakit disfungsi erektweet Anda, bisa dikatakan Anda telah masuk ke gejala bosan dan jenuh dengan dunia twitterland. Itu bisa dikatakan wajar. Seperti di awal tulisan ini, kegemaran dan kesukaan dalam beraktivitas di tool apapun di ranah maya memiliki umur. Bisa 2, 3, 4 tahun dan seterusnya.

By: Ibnu Azis. Editor: Sherlomes. Monday, April 25, 2011. Filed under , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0.

.

Sherlomes - Indonesian Social Media Blog - Blog Media Sosial - 2009-2011 - View Mobile Version - Contact - Designed by SimplexDesign.